Berita Unik Terbaru Terkini berisi kumpulan kata kata cerita mutiara lucu bijak motivasi cinta contoh gambar video zodiak makalah cv lamaran kerja harga terupdate

Kota Jeneponto

Rhya smartcomunity

Jeneponto adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Jeneponto terkenal juga dengan “Bumi Turatea” dan identik dengan kota “KUDA”, Ya kota kuda. Jika Anda telah masuk ke pusat kabupaten yakni di Bontosunggu [ibukota kabupaten Jeneponto] maka akan tampak sebuah patung kuda sebagai lambang atau simbol kabupaten Jeneponto.

Melanjutkan pembicaraan tentang julukan “Kuda”, hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Jeneponto yang gemar memakan kuda. Di pasar-pasar tradisional akan sangat susah untuk mendapatkan daging lain selain daging kuda bahkan tidak ada.
Jarak tempuh dari Makassar ke Jeneponto 2 jam perjalanan dengan jarak tempuh 95 km. Perjalanan ke kabupaten Jeneponto akan melewati 2 kabupaten yakni Gowa dan Takalar..
Sisi pertama adalah julukan miring atau cenderung mengarah ke hal yang negatif dan sisi baik.
Jeneponto dikenal dengan istilah “Pa’bambangang Na Tolo” adalah istilah dalam bahasa Makassar yang berarti sering marah tapi berotak dugu. Inilah istilah yang melekat cukup erat terhadap masyarakat Jeneponto sampai saat ini.para pejabatnya didominasi oleh suku bugis meliputi kabupaten Bone, Sinjai, Wajo, dll. Sementara penduduk Jeneponto yang tinggal di Makassar kebanyakan kalangan bawah yang tidak berpendidikan dengan pekerjaan adalah tukang becak, kuli bangunan, buruh pelabuhan dan lain sebagainya walaupun pekerjaan ini bagi saya bukanlah pekerjaan hina karena halal daripada kerja di pemerintahan dengan mengambil hak orang lain dan korupsi.

Jeneponto sangat khas dengan makanan tradisional “Coto Kuda dan Gantala Jarang”, Jarang=Kuda (Bahasa Makassar).Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan makanan ini pasti tidak akan berselera untuk mencicipinya. Tapi masyarakat Jeneponto tidak demikian, dalam pesta-pesta pernikahan tidak akan sah atau ada sesuatu yang kurang jika tamu tidak disuguhi dengan hidangan GANTALA JARANG.
Tentang rasa?. tidak berbeda jauh dengan daging sapi akan tetapi sedikit lebih kenyal. Tapi bagi masyarakat Jeneponto terdapat mitos bahwa dengan makan daging “Jarang” akan memiliki stamina kuat dan pada dagingnya terdapat banyak zat-zat anti tetanus walaupun belum dibuktikan secara medis.
Jeneponto pada dasarnya terbagi dalam dua wilayah yakni daerah pesisir pantai yang cenderung kering dan daerah pegunungan yang cukup subur. Namun Jeneponto lebih dikenal sebagai daerah tandus karena jalur penghubung antar kabupaten berada di pesisir pantai sehingga orang beranggapan bahwa Jeneponto adalah daerah yang tandus.
Daerah ini dikenal cukup tandus apalagi saat musim kemarau tiba untuk kondisi di daerah pesisir pantai sedangkan untuk daerah pegunungan di sebelah utara cukup subur dan dari hasil pertanian dan perkebunan menghasilkan sayur-mayur dan tanaman palawija. kondisi tanah yang tidak bagus bahkan retak-retak di daerah pesisir menyebabkan tumbuh-tumbuhan akan sangat sulit untuk hidup. Gambar berikut adalah kondisi tanah di Jeneponto.
Inilah gambaran betapa tandusnya tanah di Jeneponto saat musim kemarau datang. Kondisi suhu pun sangat panas pada saat itu. Mata pencaharian penduduk Jeneponto sebagian besar adalah petani, nelayan rumput laut, nelayan penangkap ikan, serta petani garam.
Anak-anak, wanita sedang mendorong gerobak air adalah pemandangan biasa di jalan saat Anda melintas di Kabupaten Jeneponto terutama pagi dan sore hari. Sementara orang dewasa (laki-laki) lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah dan ladang walaupun tandus dan sebagian lagi sedang melaut. Namun orang-orang  Jeneponto tidak pernah putus harapan untuk menanti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa air hujan untuk membasahi ladang-ladang milik mereka. Masa paceklik sering dialami oleh masyarakat  jika hujan tidak turun. Akibatnya banyak penduduk Jeneponto yang kemudian beralih profesi dari petani menjadi tukang becak, supir pete-pete dan buruh di Makassar. Walaupun sebagian dari masyarakat Jeneponto tetap berusaha bertahan hidup di kampung halamannya. Karakter keras pada masyarakat Jeneponto mungkin akibat dari susahnya untuk bertahan hidup sehingga semua cara dapat ditempuh apalagi jika yang menjadi haknya diambil paksa oleh orang lain. Namun senyum dari  (masyarakat Jeneponto) akan tetap Anda jumpai saat Anda bertegur sapa dengannya.
Hal lain yang dapat Anda jumpai dalam perjalanan ke Jeneponto adalah jualan “Ballo Tanning” yang berarti tuak manis yang diproduksi oleh pohon lontar atau dalam bahasa Makassar “Tala’ “. Rasanya memang manis dan tidak memabukkan. Tuak manis inilah yang menjadi bahan baku untuk pembuatan gula merah tersebut. Sesaat sebelum matang, kita dapat mengambil sari pati dari olahannya untuk dijadikan “tenteng”(semacam permen gulali)
Sisi positif dari Jeneponto adalah budaya siri’ [rasa malu yang tinggi] untuk hal yang jelek-jelek walaupun juga dimiliki oleh hampir seluruh suku di Sulawesi Selatan, tapi budaya ini masih begitu melekat bagi masyarakat Jeneponto sebagai sebuah suku Makassar. Jika harga diri telah diinjak-injak maka mereka lebih rela untuk mati dari pada harga dirinya direndahkan oleh orang lain. Dan salah satu pompa pemicu keberhasilan adalah budaya siri’ ini yang harus melekat dalam diri setiap putra/i Turatea.
Jalur perjalanan yang dilalui sangat indah karena pemandangan pinggir laut dan petak-petak sawah untuk pembuatan garam dapat Anda jumpai di sini.
Satu hal yang bisa membuat Kabupaten Jeneponto bisa maju adalah dengan dibangunnya waduk Kareloe. Jika ini bisa diperjuangkan oleh pemerintah kabupaten Jeneponto, yakin Jeneponto akan berubah. Jeneponto akan Jauh lebih makmur dengan hasil pertanian dan perkebunan tentunya. Setelah itu baru membangun Sumber daya manusianya, tentu Jeneponto akan  sangat maju.

0 komentar:

Post a Comment