Berita Unik Terbaru Terkini berisi kumpulan kata kata cerita mutiara lucu bijak motivasi cinta contoh gambar video zodiak makalah cv lamaran kerja harga terupdate

SULOLIPU PETTA PABBICARA. PAHLAWAN PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA DARI SIDENRENG RAPPANG.



Oleh: Andi Syaifullah
Sumber: H.A. Iskandar Pajujungi Arung Amparita.

ANDI SULOLIPU Pabbicara Amparita yang juga biasa dipanggil ANDI ABDULLAH, dilahirkan pada thn 1900, dari bapak bernama LA PAKERRANGI PETTA PABBICARA SIDENRENG, dan ibu bernama I TANGKUNG, pada suatu wilayah di Kerajaan Sidenreng bernama Amparita.

Pada umur yg masih sangat remaja pada thn 1916, dinikahkan dengan perempuan bernama ANDI MAESURI Kr. CAKKI, seorang puteri keturunan Raja Tallo. Dan pada thn 1939, menikah lagi dengan perempuan bernama ANDI HANISUH, seorang putri keturunan Petta Enrekang, dengan jumlah anak dari kedua istri tsb sebanyak 10 orang.

Setelah menamatkan sekolahnya pada Sekolah Rakyat (VOLKSSCHOOL) selama 3 tahun di Amparita & tamat pula pada sekolah GOUVERNEMENT kelas 2 (VERVOLGSCHOOL) di Rappang thn 1912, maka diangkat menjadi Kepala Penjara Pare-Pare (SIPIR), pada thn 1914.

Karena Andi Sulolipu dianggap cakap untuk menggantikan ayahnya La Pakerrangi sebagai Pabbicara (wafat pada thn 1917), maka LA CIBU ADDATUANG SIDENRENG XIII, mengangkat Andi Sulolipu menjadi PABBICARA AMPARITA, dan diberi tugas-tugas pada bidang:
1. Pemerintahan & Hukum,
2. Ketua Hadat Sidenreng disamping Addatuang, dan
3. Ketua Badan Pertimbangan Pemerintah Kerajaan Sidenreng.

KEGIATAN DI BIDANG SOSIAL & PENDIDIKAN.
Pada thn 1930, Andi Sulolipu mendirikan satu perkumpulan atau yayasan dengan nama PERKUMPULAN NASRULHAQ. Yayasan inilah pada thn 1931 mendirikan SEKOLAH NASRULHAQ l, berpusat di Amparita & didirikan pula cabang2nya di Teteaji, Allakuang, Massepe & Pangkajene, dipimpin oleh seorang ulama terkenal pada masa itu bernama K.H. MUHAMMAD YAFIE (ayahanda Prof. Ali Yafie mantan Ketua MUI). Berselang beberapa tahun kemudian, didirikan pula MADRASAH IBTIDAIYAH & TSANAWIAH yg dipimpin KH. ZAINAL ABIDIN, seorang ulama dari Mandar dgn pembantu2nya bernama ABDUL RAZAK & ABDUL WAHAB.

Pada thn 1937, Andi Sulolipu mendirikan lagi sebuah sekolah yg diberi nama SEKOLAH NASRULHAQ ll (TWEEDE NASRULHAQ SCHOOL) yg mata pelajarannya sama dengan H.I.S & SCHAKELSCHOOL ditambah dengan pelajaran agama islam.

Atas rekomendasi dari TUAN HABIBIE (ayah Prof. Habibie, Mantan Presiden RI), didatangkan pengajar dari Gorontalo yg masih kerabat dekat mereka, seperti: USMAN ISA, Ny. CHATIBI USMAN ISA & ABBAS MAHMUD. Ditambah seorang guru agama dari Mandar, dan seorang dari Minangkabau bernama ABU SALIM ALAMSYAH. Sekolah ini berjalan lancar selama 5 tahun hingga pecahnya Perang Dunia ke II. Meski demikian Andi Sulolipu telah mempersiapkan murid2 tersebut untuk melanjutkan pendidikan pada sekolah MULO & CIBA Di Makassar.

Untuk membangun rumah sekolah & mendirikannya, ditambah dengan membayar gaji para guru, dari thn 1931 s/d 1942 (11 tahun) Andi Sulolipu telah menggadaikan sanra putta sawahnya kepada SAID SADIK ALIDRUS sejumlah 10 H.A (7 HA, di Laulaweng Amparita & 3 HA di Labuaja Lawawoi).

KEGIATAN DI BIDANG PARTAI & ORGANISASI PERJUANGAN.
Andi Sulolipu menjabat sebagai Pengurus & Penasihat Partai Sarikat Islam (PSI) Cab. Teteaji. pada Kongres PSI di thn 30-an, Pimpinan Pusat HAJI OMAR SAID TJOKROAMINOTO berkunjung ke Teteaji. sempat terjadi pertemuan & perbincangan dengan Andi Sulolipu. Dalam perbincangan tersebut Tjokroaminoto berharap agar perjuangan PSI didalam menuntut Kemerdekaan Indonesia mendapatkan dukungan yg semakin luas di kalangan masyarakat, terutama dari golongan bangsawan tinggi seperti halnya dengan Andi Sulolipu.

Terbukti di kemudian hari, Andi Sulolipu sangat konsisten dengan sikap perjuangannya sampai wafatnya di thn 1947.

Pada awal bulan September 1945, Andi Sulolipu ke Makassar untuk menemui DR. SAM RATULANGI. dimana pada saat itu beliau telah pulang dari Jakarta setelah menghadiri Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dalam pertemuan tsb, Andi Sulolipu mengemukakan rencananya untuk mendirikan PARTAI NASIONAL INDONESIA (PNI) di Sidenreng Rappang, dan berpusat di Amparita, untuk tujuan menghimpun massa rakyat dalam satu wadah organisasi demi menghindari pengaruh2 negatif dari kalangan anti republikein.

Rencana & gagasan Andi Sulolipu itu disambut baik oleh Sam Ratulangi yg telah diberi mandat oleh SOEKARNO sebagai GUBERNUR di Sulawesi. setelah beliau memberikan masukan2 yg berharga kepada Andi Sulolipu, maka Sam Ratulangi memerintahkan staf pembantunya Mr. TADJUDDIN NOOR untuk menyertai Andi Sulolipu ke Amparita membentuk PARTAI NASIONAL INDONESIA (PNI).
Dengan melalui sebuah komite, tersusun Pengurus Partai, sbb:

Ketua Umum : ANDI SULOLIPU,
Ketua 1 : ANDI ABU BAKAR,
Ketua 2 : CALLAKARA,
Penulis 1 : ANDI MARAMAT,
Penulis 2 : LA PABBOLA,
Penulis 3 : ANDI ISKANDAR,
Bendahara 1 : ADAMA,
Bendahara 2 : ANDI BAHARUDIN.

Disamping Pengurus Harian tsb diatas, Partai ini dilengkapi pula dengan Pembantu2 seperti:
1. Bidang Penerangan & Propaganda,
2. Bidang Sosial,
3. Bidang Perhubungan,
4. Bidang Perlengkapan,
5. Bidang Perlawanan & Pengerahan Massa, dan
6. Bidang Tata usaha & Pendaftaran Anggota.

Berdirinya PARTAI NASIONAL INDONESIA di Amparita, Sidrap, dalam waktu singkat telah tersebar luas di Masyarakat. Maka mulailah rakyat mendatangi kantor P.N.I. u/mendaftarkan diri menjadi anggota. seperti dari Enrekang, Soppeng, Pinrang, Wajo, dll.

Pada bulan Oktober 1945, Andi Sulolipu sebagai Ketua Umum PNI, mengundang Tokoh2 Pejuang Kemerdekaan Sidenreng Rappang untuk menghadiri rapat yg diadakan di Amparita yg dihadiri oleh:
1. ANDI CAMMI & ANDI NOHONG, dari Rappang.
2. ANDI TAKKO dari Tanrutedong.
3. ANDI NEMBA, Pangkajene.
4. ANDI ABDUL LATIF, Bilokka.
5. ABDUL GANI RASUL, Massepe.
6. M. ABDUH PABBAJA, Allakuang.
7. KEPALA LAUPE, Wette'E, Wanio.
*] kesemuanya ditemani rekan2 dalam 1 rombongan.

Ada 3 (tiga) keputusan penting yang diambil dalam rapat yang dipimpin Andi Sulolipu tersebut, yakni:
1. Secara resmi & protokoler Bendera Merah Putih dinaikkan.
2. Membagi Daerah Pertahanan di Sidenreng Rappang menjadi 2 (dua) wilayah:
a. Wilayah Utara Pangkajene sampai Rappang & sekitarnya adalah Daerah Operasi B.P. GANGGAWA dibawah pimpinan Andi Cammi & Andi Nohong.
b. Wilayah Pangkajene ke Selatan sampai Bilokka & sekitarnya adalah Daerah Operasi KRIS MUDA dibawah pimpinan Yusuf Rasul & Rachman Tamma.
3. Mendukung sepenuh pengangkatan Dr.Sam Ratulangi menjadi Gubernur Sulawesi.

Setelah rapat selesai, maka seluruh peserta mengambil tempat di pekarangan RUMAH ADAT BOLA LAMPE'E untuk mengikuti Upacara Penaikan BENDERA MERAH PUTIH diiringi dengan lagu INDONESIA RAYA.

Peristiwa ini adalah peristiwa bersejarah di Sidenreng Rappang. U/kali pertama secara resmi & protokoler Sang Merah Putih dikibarkan dgn diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, disaksikan oleh para pejuang yg hadir & rakyat yg telah berkerumun memadati halaman.

Pada bulan November 1945, Andi Sulolipu mengadakan Konferensi yg diikuti oleh para Pendukung Kemerdekaan Indonesia, bertempat di Gedung Sekolah Rakyat Amparita. Hadir dlm Konferensi itu ialah tokoh2 pejuang utusan daerah Enrekang, Wajo, Soppeng, dll. Keputusan yg diambil adalah:
Menolak kembalinya penjajahan di bumi Indonesia. Serta siap menentang & melawan dgn kekuatan yg ada pada diri sendiri. Diputuskan pula bahwa pengangkatan Dr.Sam Ratulangi menjadi Gubernur adalah sah.

DIBERHENTIKAN DARI JABATAN PABBICARA.
Aktivitas Refresif yg dilakukan Andi Sulolipu didalam upaya mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tidak disetujui Pemerintah Kerajaan Sidenreng & Belanda waktu itu. Beliau sering dipanggil hanya untuk dinasehati agar ia sadar & lebih memusatkan pikiran pada tugas2 pokoknya di pemerintahan. Hal ini menimbulkan kekecewaan Andi Sulolipu terhadap beberapa rekannya sesama kaum aristokrat yg duduk di pemerintahan. Mereka lebih memilih u/melanjutkan kerjasama dgn pihak Belanda, demi mengamankan jabatan daripada ikut berjuang. Beruntung kekecewaan itu terobati oleh sikap Patriot yg ditunjukan kalangan muda yg dimotori oleh Andi Cammi & Yusuf Rasul, dkk.

Akibat sikap yg dinilai keras kepala & membangkang,
pada bulan Mei 1946, A. Sulolipu diberhentikan dari jabatannya selaku Pabbicara Amparita. Pemberhentian tsb dlm waktu singkat telah diketahui secara luas dikalangan rakyat. Hingga kawan2 seperjuangan silih berganti datang u/menyatakan simpati & keprihatinan. Ketika ditemui, A. Sulolipu mengatakan, "Sekarang ini saya adalah rakyat biasa. Kedudukan saya selaku Pabbicara telah ditanggalkan, maka oleh karena itu tibalah saatnya sekarang ini saya bersiap2 menunggu kedatangan Belanda u/menangkap saya. Itu pasti akan terjadi. Itulah resiko atas keyakinan & pendirian saya. Kalau besok atau lusa saya ditangkap Belanda, jangan harapkan saya akan kembali. Tetapi tunggulah kabar kematian saya. Saya telah ikhlas. Kepada kawan2 seperjuangan saya, agar perjuangan kita yg suci murni ini diteruskan, Insya Allah & yakinlah bahwa penjajah belanda akan segera terusir dari Negara kita ini. Tinggal menunggu waktunya".

DIPANGGIL OLEH ASSISTENT RESIDENT PARE-PARE & DIBUJUK AGAR MAU KEMBALI BEKERJA SAMA.
Pada suatu hari di bulan November 1946, Andi Sulolipu dipanggil oleh Assistent Resident Pare-Pare u/menghadap. Ia berangkat bersama dgn saudara2nya: H.A.NURDIN, H.A.ABU BAKAR, H.A.CAMBOLANG, dan putra sulungnya ANDI MAPPAWEKKE. Assistent Resident membujuk & mengatakan kepada Andi Sulolipu, "Hai, Tuan Pabbicara, bagaimanakah pendirian tuan, saya rasa lebih baik tuan Pabbicara bersedia & mau kembali bekerja sama dgn kami. Kalau bersedia kita akan bayar kembali semua gajinya & kita akan berikan pangkat yg lebih tinggi lagi". Bujuk Assistent Resident.
Mendengar kata2 bujukan itu, maka Andi Sulolipu menjawab, "Paduka tuan Assistent Resident, saya tidak bersedia lagi kembali memangku jabatan Pabbicara, saya tidak mau lagi bekerja sama dengan tuan2 Belanda. Saya sekarang bersama2 dengan rakyat mau merdeka sekalipun akan menanggung resiko yg paling berat". Mendengar jawaban tersebut maka gagallah Assistent Resident Pare-Pare u/membelokkan keyakinan & pendirian Andi Sulolipu.

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Assistent Resident Pare-pare, maka pada bulan itu juga, November 1946, bertepatan dengan bulan Ramadhan, jam 4 sore, beberapa orang POLISI MILITER (M.P.) Belanda dengan mengendarai sebuah Jeep datang ke Amparita u/menangkap Andi Sulolipu. Setelah melakukan menggerebekan di Rumah Adat Bola Lampe'E, dan tidak menemui yg sedang dicari, mereka kemudian mendatangi rumah Andi Sulolipu yg lainnya didekat Lapangan Sepakbola Amparita (Sekarang Madrasah DDI) yg menjadi kantor P.N.I. dan tempat yg biasa dipakai para pejuang untuk berkumpul. Polisi Militer langsung naik kerumah & disambut oleh Andi Sulolipu seraya mengatakan, "Barangkali tuan tuan M.P. ini datang kemari untuk menangkap saya, "Dan dijawab oleh M.P. Belanda, "Betul tuan, kami diperintahkan untuk menjemput tuan".
Ia kemudian menyuruh istrinya, Andi Hanisuh, memberikan beberapa pasang pakaian, sarung, sajadah, dan Kitab Suci Al-qur'an kesayangannya karangan HAJI MUHAMMAD YUNUS. Setelah pamit kepada keluarga & seluruh isi rumahnya, ia kemudian mencium anak bungsunya ANDI HATTA dengan penuh kasih & haru. Iapun turun dari rumah dan berseru kepada orang2 yg telah berkerumun di pekarangan :

"Teruskan Perjuangan Kita & Pertahankan Kemerdekaan Kita, Insya Allah, Tuhan Akan Bersama Kita!"

Pada hari itu pula M.P. Belanda singgah ke Pangkajene & menangkap Andi Nemba. Keduanya dibawa ke Pare-Pare dan ditahan disalah satu rumah tahanan. Setelah beberapa hari ditahan di Pare-pare, keduanya kemudian dibawa ke Makassar dan masuk kedalam Rumah Tahanan KISKAMPEMENT (Tangsi Kis). Disanalah mereka ditawan bersama sama dengan Pejuang pejuang yg telah terlebih dahulu ditangkap, Seperti:
ANDI ABDULLAH BAU MASSEPE, ANDI MAKKASAU, USMAN ISA, dan saudara kandungnya HAJI ANDI ABU BAKAR, dll.

Setelah beberapa bulan lamanya mereka ditawan di Makassar, mereka kemudian dipindahkan lagi ke Kariango Suppa (Pinrang). Disinilah para pejuang mendapatkan siksaan yg berat dan keji dari Pasukan Baret Merah WESTERLING. Penyiksaan yg tanpa mengindahkan hukum2 kemanusian. Namun, para Pejuang Pembela Negara itu tetap teguh & tidak berubah keyakinan dan pendiriannya.

Sejarah mencatat, inilah peristiwa terpahit yg menimbulkan trauma pada rakyat Sulawesi Selatan. Ada 40.000 jiwa yg masih menunggu pengakuan dosa atas kejahatan terhadap kemanusiaan yg dilakukan Pemerintah Kerajaan Belanda ketika masih menancapkan kuku2 penjajahan di Bumi Pertiwi. Tapi... Pengakuan itu...

Menurut kesaksian yang banyak beredar di kalangan masyarakat Sulsel, kematian indah (SYAHID) para pejuang itu, antara lain :
1. Dijejerkan dan kemudian di tembak,
2. Ditenggelamkan di laut,
3. Dikubur hidup hidup, dan
4. Diseret/ditarik dengan tali tambang oleh mobil jeep yang berlari kencang.
(Na'udzubillah)

"Pemerintah Kerajaan Belanda wajib meminta maaf 40.000 kali kepada Rakyat Sulawesi Selatan...!!! Titik!!"

Hingga akhirnya...
Andi Sulolipu mungkin mempunyai rencana besar untuk Negara yang dicintainya ini, tapi Allah telah menentukan takdir hidupnya. Pada akhirnya semua yg merasakan hidup akan mati. Demikian halnya dengan Andi Sulolipu Pabbicara Amparita. Ia kini telah terbaring diantara ribuan kawan2 seperjuangan yg telah berpulang akibat menjadi korban kekejaman. Ia mengakhiri hidupnya dengan membawa serta keyakinan & pendiriannya yg teguh, kokoh untuk tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Tidak ada yg mengetahui kapan & dimana ia ditembak, atau dimana ia dikuburkan. kalau ditenggelamkan dimana lautannya. "Ia... Hilang tak tentu rimbanya."

PENGHORMATAN ATAS JASA JASANYA KEPADA BANGSA & NEGARA.
1. Untuk menghormati perjuangan Andi Sulolipu atas jasa jasa yg telah diberikan kepada Nusa, Bangsa, dan Negara, Pemerintah telah menganugrahkan gelar kehormatan sebagai "PAHLAWAN PEJUANG KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA" Dan Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang telah membangunkan sebuah MONUMEN PERJUANGAN ANDI SULOLIPU di Amparita, ditempatkan pada jalur Jalan Raya Pangkajene-Soppeng.

2. Monumen Andi Sulolipu diresmikan oleh bapak HAJI ANDI SALIPOLO PALALLOI, Bupati Kepala Daerah tingkat ll Sidenreng Rappang, pada tanggal 10 Agustus 1998, di Amparita, didampingi oleh bapak HAJI OPU SIDIK mantan Bupati Sidrap, bapak HAJI ANDI ISKANDAR PAJUJUNGI Petta/Arung Amparita & bapak HAJI USMAN BALO Ketua LVRI Kab. Sidrap. Turut hadir pula para anggota Muspida, Tokoh2 Veteran & Angkatan '45 Kab. Sidrap serta Pemuka Masyarakat di Amparita.

3. Pada malam harinya diadakan pula pengajian Al-Qur'an & tahlilan dirumah kediaman Andi Sulolipu "Rumah Adat Saoraja Bola Lampe'E" Amparita. Pada keesokan harinya, dilaksanakan pemasangan batu nisan Andi Sulolipu (secara simbolis), di pemakaman keluarga "Andi Pakerrangi Pabbicara Sidenreng"
(Kubburu' Bola Batue Amparita)

TAMAT
____________________________________

Blog ini di dedikasikan kepada Almarhum Haji Andi Iskandar Pajujungi (1926-2008)
Petta/Arung Amparita 1950 s/d 1962. (Penulis asli riwayat Andi Sulolipu)

Bunga Rampai... Mengenang Haji Andi Iskandar Pajujungi (Veteran Pejuang '45) didalam tulisan.

Oleh: Andi Syaifullah

Lumrah dalam penulisan riwayat hidup, apalagi menyangkut seorang tokoh pahlawan, hambatan utama adalah mencari dan menghadirkan narasumber berkompeten yang ada dan hidup sezaman ketika jejak itu pertama kali direkam. Dan... Peran apa saja yang telah dimainkan sang narasumber untuk menjadi layak dalam menapaktilasi sosok yg dituliskannya.

Adalah Haji Andi Iskandar Pajujungi, Petta/Arung Amparita (1950-1962), memberikan pencerahan terhadap tokoh Andi Sulolipu yang merupakan salah satu aktor kunci Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan di Sidenreng Rappang.

Haji Andi Iskandar adalah putra daripada Andi Pajujungi bin La Makkulau Datu Pammana (Lagosi, Wajo) dengan ibu bernama Andi Takko Binti La Pakerrangi Petta Pabbicara Sidenreng. Ini berarti didalam darah beliau bercampur turunan Wajo & Sidenreng. Jika ditelusuri dengan lebih detail, beliau adalah keturunan ke 4 (Empat) dari La Panguriseng "Addatuang Sidenreng" dan I Bangki "Arung Rappang", dari jalur Datu Cakumba-I Banca > I Mamma Petta Empagae-La Makkulau Datu Pammana > Andi Pajujungi-Andi Takko= Andi Iskandar.
Beliau pula adalah keponakan dan menantu Andi Sulolipu dikarenakan Andi Takko ibunda beliau adalah adik kandung Andi Sulolipu, dan menikahi salah satu putri pamannya itu yang bernama Andi Camming.

Ketika masih muda Andi Iskandar ikut aktif memperjuangkan & mempertahankan Negara Republik Indonesia dengan memasuki & menggabungkan diri pada:
1. Partai Nasional Indonesia (P.N.I.) pada tahun 1945 s/d 1946, sebagai penulis (Sekretaris), dibawah pimpinan Andi Sulolipu.
2. Sebagai anggota Pemuda Nasional Indonesia dibawah pimpinan La Nakka & Andi Abdullah Bau Massepe.
3. Anggota Kelaskaran Tentara Nasional Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS), dibawah pimpinan Andi Mattalatta dari tahun 1947 s/d 1949.
4. Berangkat ke pulau Jawa pada tahun 1949 dan menggabungkan diri pada Tentara Nasional Indonesia Perwakilan Komando Grup Seberang pimpinan Letnan Kolonel Kahar Muzakkar dan Letnan Satu Andi Maramat, Dll.

Dengan segenap pengalaman dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan tersebut, Andi Iskandar adalah narasumber berkompeten yg bisa menjadi saksi kunci dari perjuangan sosok pahlawan Andi Sulolipu. Meski dalam kenyataan tidak ada gading yg tiada retak. Semua manusia diciptakan pasti mempunyai berbagai macam kekurangan. Untuk mengantisipasi hal itu, kami sebagai keluarga siap mewakili almarhum Andi Iskandar Pajujungi jika ada ditemukan berbagai kesalahan dalam penyebutan nama, tempat, ataupun kejadian didalam riwayat ini, itu adalah kekhilafan kami, dan kami memohon maaf yang sebesar besarnya.

Meski sejarah Andi Sulolipu jarang diungkap & diperbincangkan, dan tak jarang dikecilkan perannya, hal itu adalah 'lumrah'. Di zaman yg mengedepankan kepentingan politis, seorang 'Pahlawan Kesiangan' pun... bisa terangkat secara prematur menjadi 'Pahlawan Super'. Diperlukan kejujuran yang berimbang didalam memahami sejarah perjuangan sebagai milik bersama. Bukan milik satu atau dua orang. Semua yang telah berjuang mengorbankan harta benda ataupun jiwanya untuk kemaslahatan umat manusia adalah Pahlawan yang oleh Chairil Anwar disebut "Pahlawan yang Mati untuk Hidup Seribu Tahun Lagi"

Salam hangat...

"Yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan adalah golongan Bangsawan!"

Oleh: Andi Syaifullah

Mungkin judul ini bagi sebagian pembaca adalah agak sedikit pro & kontra, karena didalam perjuangan pra kemerdekaan & pasca kemerdekaan, dilalui dengan tetesan darah, keringat dan airmata dari sinerji kalangan aristokrat (bangsawan) dengan golongan pemuda politik yg banyak berasal kalangan rakyat biasa. Tapi bacalah ini yang merupakan kutipan dari tulisan Prof. Dr. Hamid Abdullah (Guru Besar Universitas Diponegoro), mengenai argumentasi menarik dari Ide Anak Agung Gde Agung tentang siapa yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Sulsel? Apakah golongan Raja Raja (kelompok Aristokrat) atau golongan pemuda politik? Pertanyaan ini muncul dari Dr. Sam Ratulangi menjelang keberangkatannya ke Jakarta untuk memenuhi undangan pemerintah pusat dibawah pimpinan Soekarno-Hatta. Menurut Anak Agung, Sam Ratulangi mendatangi Lanto Dg. Pasewang untuk berkonsultasi tentang perihal ini, dan dijawab oleh Lanto Daeng Pasewang dengan tegas, "Yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan adalah golongan Bangsawan!"

Dari fakta sejarah yang diperlihatkan oleh Anak Agung tentang kelompok mana yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Sulsel, terlihat dengan jelas besarnya peranan yang dibawakan oleh kelompok aristokrat dalam mencari dukungan masyarakat, dalam menyebarluaskan pengertian kemerdekaan bagi masyarakat, dan dalam usaha menggalang persatuan nasional untuk mempertahankan kemerdekaan.

Sama persis ketika H.O.S. Tjokroaminoto menitipkan pesan kepada salah seorang tokoh Aristokrat asal Sidenreng Rappang, Sulsel, yakni Andi Sulolipu Petta Pabbicara Amparita, ketika beliau melakukan kunjungan di Sulawesi Selatan pada awal tahun 30-an. Dalam kesempatan tersebut, Tjokroaminoto menekankan pentingnya dukungan kalangan aristokrat terhadap perjuangan P.S.I. untuk meraih dukungan masyarakat didalam menuntut Kemerdekaan Indonesia.

Prof. Hamid Abdullah lebih lanjut menjelaskan didalam tulisannya bahwa hasil konsultasi antara Lanto Dg. Pasewang dengan Dr. Ratulangi merupakan masukan yg sangat berharga bagi Ratulangi dalam menentukan kebijakan politik di kawasan ini. Sebab, seandainya dia tidak menanyakan hal tersebut kepada Lanto Dg. Pasewang sebelum diangkat menjadi Gubernur Sulawesi, tentu perjalanan sejarah kawasan ini (Sulsel) kemungkinan akan lain bentuknya. Mungkin akan terjadi konflik antara kelompok sosial di masyarakat, dan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan berbagai fenomena sosial dalam kehidupan masyarakat sehingga kesatuan nasional mengalami kendala.

Sekian...

LA PAKERRANGI PETTA PABBICARA SIDENRENG. PERWIRA KSATRIA SIDENRENG RAPPANG.


Oleh: Andi Syaifullah
Dari: H.A. Iskandar Pajujungi

Sidenreng Rappang pernah mencatatkan sejarah sebagai Kerajaan berdaulat yg pernah melawan hegemoni penjajahan Belanda pada masa pemerintahan LA SADAPOTTO Addatuang Sidenreng XII & Arung Rappang XX, Pada tahun 1905. Dimasa itu ratusan prajurit pemberani gugur akibat terkena peluru senapan & meriam. Belum terhitung rakyat di kerajaan tsb yg menjadi korban akibat dari dampak peperangan. Perang yg telah mengubah Sidenreng Rappang menjadi medan pertempuran harga diri, harkat martabat (siri') dari para Patriot2 sejati kerajaan tsb.

Salah seorang Aktor penting dlm perang itu adalah LA PAKERRANGI yg akan kami tuliskan riwayat singkatnya, sbb:

LA PAKERRANGI atau sering dipanggil PETTA KERRANG dilahirkan pada thn 1870, dari ayah bernama Mayoor LA RUMPANG, Panglima Perang Kerajaan Sidenreng era LA PANGURISENG. dengan ibu bernama I TEMMALALA, yg tinggal di Amparita, Sidrap.

Pada thn 1887, ketika masih berumur 17 tahun, menikah dgn perempuan bernama I TANGKUNG PUANG BANNA yg biasa disebut PUATTA DAENNA, anak daripada LA WETTOWENG & SYARIFAH SOCHRAH PUATTA INDO'NA, sering dipanggil PUATTA ADJIE yg tinggal dirumah Adat Saoraja Bolamamminasae, Arateng, Sidrap.

La Pakerrangi telah menampakkan jiwa kepemimpinan ketika masih kecil. Ia sangat menonjol dikalangan teman2 sebayanya sesama anak arung, dan pandai pula mengambil hati masyarakat, sehingga orang2 dikalangan rakyat biasa sangat menyukainya. Hingga disaat dewasa, beliau terkenal berjiwa patriot, jujur, takwa & pemberani.
Maka ketika LA SADAPOTTO dinobatkan sbg Addatuang Sidenreng Xll, thn 1904, iapun mengangkat kerabat dekatnya tsb menjadi pembantunya yg lazim dimasa itu disebut PABBICARA SIDENRENG. La Pakerrangi menggantikan Pabbicara LA TINETTA yg wafat di Amparita pada kira2 thn 1889. Jadi jabatan Pabbicara yg berkedudukan di Amparita diperkirakan lowong (15thn) dimasa SUMANGE'RUKKA menjadi Addatuang Sidenreng.

Selama memangku jabatan Pabbicara, La Pakerrangi dikenal sangat dekat pada masyarakat, taat beribadah & suka bermusyawarah dgn Pangulu Anang (Camat/Kepala Desa) & Pangulu Maranang (Pemuka Masyarakat). Sehingga dlm melaksanakan tugasnya sbg Pabbicara dapat berjalan lancar. Dia pula sangat disegani & dihormati oleh kawan maupun lawan, karena dlm melaksanakan tugas2 pemerintahan beliau terkenal sangat tegas, adil & bijaksana.

Adapun tugas2 yg pernah diberikan oleh Addatuang Sidenreng antara lain membangun hubungan transportasi dari Sidenreng ke Pare-Pare, yaitu:
1. Membuat jalan raya dari Allakuang ke Pare-pare melalui poros Allakuang, Talumae, Cela, Lempong Manila, dan tembus ke Pare-Pare.
2. Membuat poros jalan Lawawoi, Bangkai, Patommo, Pabbaresseng, sampai ke Pare-Pare.

Pada waktu terjadi perselisihan antara Kerajaan Sidenreng dengan Kerajaan Soppeng, La Pakerrangi dipercayakan memimpin pasukan (Panglima) ke Soppeng u/melawan orang Soppeng & membawa kemenangan pada waktu itu.

Pada tahun 1905, ketika Belanda telah memasuki kota Pare-Pare, La Pakerrangi diperintahkan oleh La Sadapotto u/membentengi daerah perbatasan Sidenreng Rappang & Pare-Pare, agar pasukan Belanda tdk masuk ke wilayah tersebut.
Ada 3 jalur yg harus dibendung & dipertahankan oleh 3 Pabbicara sebagai pimpinan pasukan, yaitu:
1. PABBICARA LA MAMMO. Ditempatkan disebelah timur Pare-pare (jalur tengah).
2. PABBICARA AMBO'NA LA BADJU. Ditempatkan di daerah La Djawa (jalur sebelah selatan),
3. PABBICARA LA PAKERRANGI. Ditempatkan di Aggalacengnge. sebelah timur Suppa (jalur utara).

Salah seorang diantara 3 Pabbicara ini gugur ketika menjalankan tugasnya. Adalah Pabbicara Ambo'na La Badju yg gugur sebagai Pahlawan ketika hendak menghalau tentara Belanda u/masuk ke wilayah Sidenreng Rappang. Pertahanannya dijalur sebelah selatan bobol akibat pengkhianatan salah seorang Kaptennya.

(Lontara; Sidenreng ricau belandae, nasaba' bali'na kapitan...)

Ketika hal ini sampai ketelinga Addatuang La Sadapotto, iapun mengirimkan pesan kepada Pabbicara La Pakerrangi untuk pulang. Dan seterusnya diserahi tugas sebagai Pimpinan Pasukan Pengawal untuk menjaga keselamatan Addatuang Sidenreng dgn segenap keluarganya.

Tugas ini berakhir ketika Addatuang Sidenreng/Arung Rappang La Sadapotto menandatangani Pernyataan Singkat dengan pihak Belanda (KORTEVERKLARING) pada thn 1906, yang menandai berakhirnya perang selama ratusan hari.

Dalam suatu kesempatan, Pabbicara La Mammo Panglima Utama Pasukan Kerajaan Sidenreng pernah berkata, "Kalau saya meninggal dunia, hanya La Pakerrangi saja yg dapat menggantikan saya sebagai Panglima". Tetapi sejarah kemudian berkata lain. La Pakerrangi terlebih dahulu meninggal daripada La Mammo. Sehingga era Panglima Perang di Kerajaan Sidenreng berakhir setelah mangkatnya Petta Pabbicara La Mammo.

La Pakerrangi wafat di Amparita pada thn 1917. Menurut penuturan berbagai sumber, beliau telah mengalami sakit sejak lama akibat terluka dalam ketika bertempur dgn Belanda.

TAMAT

SILSILAH LA PAKERRANGI PETTA PABBICARA SIDENRENG


Oleh: Andi Syaifullah
Sumber: H.A. Iskandar Pajujungi, H. Opu Sidik, A. Ilham Latunra.

'Inilah Silsilah Pertuanan Tanah Sidenreng. LA PANGURISENG Dan LA TOACALO Dua Orang Sebapak Seibu Yang Menurunkan Bangsawan Lapisan Teratas Negeri Sidenreng
Patturung Wija Dewata Mappideceng ri Tau MaegaE'

LA PAKERRANGI Petta Pabbicara Sidenreng (1870-1917) adalah anak dari LA RUMPANG Petta Manyoro'E Sidenreng, dari istrinya yang bernama I TEMMALALA, putri LA PAKKAMPI' Arung Amparita, LA PAKKAMPI' putra dari LA PADAPI Arung Amparita. LA RUMPANG adalah anak dari TOACALO Arung Maiwa, dari istrinya yang bernama I LANTE PUANG INDO RASA, anak LA MALLUDA Arung Salo Dua Enrekang. LA RUMPANG Bersaudara kandung dengan LA NAKI Arung Maiwa, LA COKE Arung Maiwa, dan LA BABE Sulewatang Maiwa. TOACALO bersaudara dengan LA PANGURISENG Addatuang Sidenreng X, TOA PATUNRU Karaeng Beroanging, LA CINCING Akil Ali Karaeng Mangeppe, Arung Matowa Wajo XXXIX, dan ISKANDAR MANUJENGI Karaeng Kile Petta Pilla'E ri Wajo. Mereka berlima adalah anak dari MUHAMMAD ARSYAD Petta Cambang'E Arung Malolo Sidenreng, dari istri yang bernama I NOMBA' Datu Pammana. MUHAMMAD ARSYAD adalah Anak Mattola (Pewaris Tahta) dari LA WAWO Addatuang Sidenreng IX, yang rangkap jabatan sebagai Arung Tempe, Arung Maiwa, dan Arung Berru X, dari Permaisurinya I BOMBENG Karaeng Baine'A, adik perempuan I MAPPAURANGI SULTAN SIRAJUDDIN Tumenanga ri Pasi (1735) Sombaya ri Gowa XXI dan XXIII. LA WAWO adalah anak dari TO APPO Addatuang Sidenreng VIII dan Arung Berru VIII, dengan istrinya I TUNGKE Arung Tempe. TO APPO anak dari TOAGEMETTO Arung Ajjaling Petta Ponggawa Bone dengan istrinya I RUKKIAH Karaeng Kanje'ne Addatuang Sidenreng VI, yang merangkap Arung Berru VII, putri dari LA MALLEWAI Addatuang Sidenreng V, dan Arung Berru V. TOAGEMETTO adalah anak dari TOANCALO Petta Ponggawa Bone. TOANCALO adalah anak dari LA MADDAREMMENG Arungpone XIII Matinroe ri Bukaka (1625-1646), dari istrinya ARUNG MANAJENG. Dari istrinya yang bernama ARUNG PANGI, LA MADDAREMMENG mempunyai anak yang bernama LA PAKOKKOE TO ANGKONE TADAMPALIK Arung Timurung dan Ranreng Towa Wajo. LA PAKOKKOE adalah suami dari WE MAPPOLOBOMBANG adik kandung dari Batara Tungke'na Tana Ugi ARUNG PALAKKA Petta Malampe'E Gemmena Arungpone XV. Dari perkawinan merekalah terlahir putera yang kelak mempersatukan kerajaan2 besar di tanah Bugis dan Makassar dalam satu ikatan darah, yaitu LA PATAU MATANNA TIKKA Arungpone XVI.

Adapun susunan Putra/Putri/Cucu, LA PAKERRANGI & I TANGKUNG PUATTA RI AMPARITA (istri), sbb:

1. ANDI INDAL FATARAH, meninggal waktu kecil.

2. ANDI BINAONG, meninggal waktu kecil.

3. ANDI BATURIYAH, ayah dari ANDI TUNGKE.

4. ANDI SULOLIPU, Petta Pabbicara Amparita, Ayah dari :
- ANDI MAPPAWEKKE, Kepala Pemerintah Swapraja Sidenreng.
- ANDI SENNANG,
- ANDI MAPPAROLA,
- ANDI ISMAEL,
- ANDI CAMMING,
- ANDI MAHMUD,
- ANDI BULAENG,
- ANDI SOHRA,
- ANDI HATTA.

5. HAJI ANDI NURUDDIN, Petta Kadhi Sidenreng Arung Otting, Adalah ayah dari :
- ANDI RUMPANG,
- ANDI HADIJAH,
- ANDI ATTIRA,
- ANDI SUNGGU,
- ANDI TONRA,
- OPU SIDIK, Bupati Sidrap, 2 periode, (1978 s/d 1988)
- ANDI ABD. SAMAD.
- ANDI SURIAH.

6. HAJI ANDI TJAMBOLANG, Petta Sulewatang Mallusetasi, Adalah ayah dari :
- ANDI SIANGLIPU,
- ANDI LATEKO,
- ANDI SADDADE,
- ANDI TADJUDDIN,
- ANDI SUHRIAH,
- ANDI KARTINI,
- ANDI TJA, Ex. Anggota DPRD Sulsel, 3 periode.
- ANDI CABUBENG, dan...
- ANDI MAKMUR.

7. HAJI ANDI ABU BAKAR. Adalah ayah dari :
- ANDI ADAM,
- ANDI BAHARUDDIN,
- ANDI SIANGKA,
- ANDI HALLANG,
- ANDI SARRA, dan
- ANDI DEGONG. Ex. anggota DPRD Pare-pare.

8. ANDI TAKKO (Perempuan), Ibu dari :
- ANDI MUTIA TOJA,
- ANDI ISKANDAR, Petta/Arung Amparita.
- ANDI PATINGELLE

SILATURRAHMI KELUARGA BESAR LA PAKERRANGI PETTA PABBICARA SIDENRENG

Silaturrahmi Keluarga Besar La Pakerrangi Petta Pabbicara Sidenreng, telah terlaksana pada hari Minggu, 29 November 2009. Berlangsung di Saoraja Bola Lampe'E, Amparita, Sidrap. Adapun keputusan dari Silaturahmi Keluarga Besar La Pakerrangi, adalah:
1. Berdirinya Yayasan La Pakerrangi Petta Pabbicara Sidenreng, yang diketuai oleh Haji Andi Ranggong (Bupati Sidrap, 2003-2008).
2. Reuni keluarga besar ini akan menjadi agenda tahunan, dan dilaksanakan setelah Lebaran Idul Adha.
3. Saoraja Bola Lampe'E (Milik Andi Sulolipu) dan Saoraja Mamminasae (Milik La Pakerrangi), ditetapkan sebagai "Monumen Sejarah" Keluarga Besar La Pakerrangi, dan merupakan "Rumah Bersama" yang harus dilestarikan.

Silaturrahmi dihadiri oleh: Haji Opu Sidik, Haji Andi Ranggong, Andi Sukri Baharman (Ketua DPRD Sidrap), Haji Andi Baharman, Haji Andi Insan P. Tanri, Keluarga Besar Andi Sulolipu, Haji Andi Nuruddin, dan Haji Andi Tjambolang, serta tokoh2 masyarakat se-Amparita.

SEJARAH LAHIRNYA ADE' PURONRONA SIDENRENG

Sumber: Lontara' La Makkaraka

Dalam rangka mengatur kehidupan sosial masyarakat, LA MAKKARAKA Addaowang Sidenreng III, bermufakat dengan pemangku adat (Pabbicara, Arung Lili, Matowa) dan masyarakat untuk menetapkan suatu kebijakan umum pemerintahan yang dalam lontara' disebut "ADE' PURONRONA SIDENRENG", terdiri dari 5 (lima) pasal, yaitu:
1. Ade' Mappuronro. Yang diartikan sebagai adat yang tidak dapat berubah dan diubah selamanya, tetap utuh hingga akhir zaman.
2. Wari Rialitutui, yaitu kebiasaan-kebiasaan baik yang harus dipelihara.
3. Janci Riasseri, artinya janji harus dipegang teguh & tidak di-ingkari.
4. Rapang Ripasanre'. Yaitu kepatuhan terhadap aturan (hukum adat dan hukum islam) yang telah disepakati bersama.
5. Agama Ritarenre Maberre. Yaitu agama harus di-agungkan selain Ade' Mappuronrona Sidenreng. LA MAKKARAKA juga menetapkan aturan-aturan yang harus ditaati, yang disebut "Taro Bicarana Sidenreng" yang merupakan ketentuan pelaksanaan Ade' Mappuronna Sidenreng, yaitu:
1. Maluka Taro Ade', Temmaluka Taro Anang, yakni keputusan adat bisa berubah, tetapi keputusan keluarga tidak dapat dirubah.
2. Maluka Taro Anang, Temmaluka Taro Maranang, yaitu keputusan keluarga bisa berubah, tetapi kesepakatan masyarakat tidak dapat diubah.
Setelah ditetapkan-nya kebijakan pokok aturan hukum tersebut, maka Raja, Pemangku Adat dan Masyarakat membuat perjanjian atau ikrar, yang dalam bahasa lontara disebut "Assijanciangenna Arungnge Sibawa Ade'E Nenniya PabbanuaE". Adapun ikrar tersebut diucapkan pada saat penobatan LA MAKKARAKA sebagai Addaowang Sidenreng III, sbb:

IKRAR RAJA....
Eee..... Sininna PabbanuaE ri Sidenreng, Issengngi Sininna Atoreng Pura RipattentuE Temmakkeinai, Temma akke Amai, Temmakke Anai. Mappenigi-nigi, Temmappe Niga-niga. Adakku Nenniya Eloku Tongeng. Iyami Nade Natongeng Narekko Natumpai Ade'E.

Artinya:
Wahai Rakyat Sidenreng! Ketahuilah Bahwa Aturan Yang Telah Ditetapkan Tidak Memandang Ibu, Bapak dan Anak, dan Tidak Ada Pengecualian. Ucapanku dan Kehendakku-lah Yang Benar (dituruti) Hanya Bisa Salah Kalau Melanggar Adat.

IKRAR PEMANGKU ADAT.....
Malilu Sipakainge, Rebba Sipatokkong, Mali Siparappa, Tasi Akkoling-kolingeng. Mauni Massorong Pawo, Nakkasolang ri PabbanuaE Napagilingngi Ade'E.

Artinya:
Saling Mengingatkan Dalam Kekeliruan, Saling Mengangkat Bila Jatuh, Saling Memintasi Jika Hanyut, Hubungan Baik Tetap Dipelihara. Meskipun Kehendak dari atas (Raja), Tetapi Dapat Merusak Orang Banyak, Maka Adat Yang Akan Membetulkan.

IKRAR RAKYAT....
Tenri Cacca MupojiE, Tenri Poji Mucaccae. Angingko Kiraukkaju, Salokko Naki Batang. Lompo-Lompo Mutettongi. Lompo-Lompo Kilewo-lewo. Bulu' Bulu' Mulettongi Bulu' Bulu' Kilewo-lewo. Makkadako Mutenribali. Mettekko Mutenri Sumpala.

Artinya:
Tak Akan Kami Tolak Yang Engkau Sukai, Takkan Kami Sukai Yang Engkau Tolak. Ibarat Engkau Arus, Kami Hanya Batang Yang Hanyut. Jika Lembah Tempatmu Berpijak, Maka Lembah Jua Yang Kami Pagari. Jika Bukit Tempatmu Berpijak, Bukit Itu Pula Yang Akan Kami Pagari. "PERINTAHMU KAMI IKUTI! SABDAMU KAMI PATUHI!..."

Dan kini setelah melalui perjalanan waktu, ajaran-ajaran luhur dari Tomanurung beserta keturunan-nya di Sidenreng (Arung'E), termasuk "Assijanciangenna", perlahan telah mulai ditinggalkan oleh 'sebagian' rakyat Sidenreng. Sama dengan rakyat yang dahulu dipimpin-nya, keturunan Raja-Raja Sidenreng, 'sebagian' masih dan sampai saat ini tetap eksis menerapkan aturan-aturan abadi yang ada dalam Lontara. Di Saoraja Massepe misalnya, setiap jangka waktu tertentu masih menggelar acara "MATTOMPANG ARAJANG" yang dihadiri unsur pemerintah daerah, masyarakat, dan segenap keturunan dari LA PANGURISENG ADDATUANG SIDENRENG. Sementara di Saoraja MamminasaE Amparita, milik LA PAKERRANGI PABBICARA SIDENRENG, telah pula menggelar acara adat secara rutin setiap 2x dalam 3 tahun, yang dihadiri oleh keturunan La Pakerrangi, keturunan ANDI ISKANDAR ARUNG AMPARITA, Pemangku adat dari To Lotang Benteng & tokoh agama Islam. Dua contoh diatas mempertegas argumen kalau sebagian keturunan bangsawan TO MANURUNG di Sidenreng, masih tetap menjaga tradisi-tradisi zaman lampau tanpa menimbulkan kesan menyimpang dari ajaran suci Agama Islam. Kalau ada pendapat bahwa "Arung'E" telah meninggalkan "Pangadereng-na", tolong tanya (sebagian dari) mereka tentang: Ade', Bicara, Rapang, Wari, dan Sara'. Insya Allah dengan segala kebesaranNya, akan terlihat siapa yang telah 'Ingkar janji'. Didalam ritual sakral, pembacaan silsilah, pangadereng dan ikrar para Arung terhadap masyarakatnya (PabbanuaE) adalah sesuatu yang 'diwajibkan'.

Meski dikatakan 'tidak mempunyai rakyat lagi', dalam kenyataan Wija para Raja (Arung) yang dahulu berkuasa di Sidenreng, masih tetap melanjutkan pengabdiannya di masyarakat. Mereka bertebaran disegala sendi disemua bidang kehidupan, terutama didalam pemerintahan.
"PATTURUNG WIJA DEWATA, MAPPIDECENG RI TAU MAEGAE"

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : SULOLIPU PETTA PABBICARA. PAHLAWAN PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA DARI SIDENRENG RAPPANG.

0 komentar:

Post a Comment